Seringkali kita mendengar teori maupun retorika mengenai tawakal dari para penceramah. Sepertinya amat teduh dan mudah di amalkan. Namun ketika kita menghadapi musibah belum tentu semudah itu kita mengamalkan ilmu berserah diri pada Allah tersebut.
Penulis sendiri pernah mengalaminya. Mungkin terlihat sepele namun ketika di hadapi lumayan nyesek juga. Suatu saat tiba-tiba layar hp penulis ngeblank. Wah dua kali saya mengalami. Alamat ganti LCD nih. Disaat uang pas pas an. Dan ada keperluan lain. Saya memutuskan untuk mengganti LCD tersebut karena untuk beli baru pun tidak cukup.
Karena handphone bagi penulis adalah alat dalam membantu berniaga. Sambil merenung penulis berfikir, sedikit nikmat menggunakan handphone saja di ambil rasanya pusing juga. Fikiran saya melintas belasan tahun kebelakang. Mengingat dulu salah satu teman di pondok adalah korban tsunami aceh. Yang ayah, ibuk, saudara bahkan rumah nya hilang.
Namun kawan saya tersebut benar benar berusaha berserah dalam hidup. Walaupun tidak mudah, dia mencoba mengikhlaskan atas segala titipan yang di ambil Allah tersebut. Maka berserah diri adalah kunci bagi dia.
Dalam sebuah hadis di sebutkan Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari (sarangnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.’ (HR. Imam Ahmad & At-Tirmidzi, dan teks hadits ini dari beliau, Abu ‘Isa berkata: hadits ini hasan shaheh)
Banyak kisah yang mengajarkan kita untuk memetik hikmahnya, sungguh apa yang kita miliki dan cintai hayalah titipan. Termasuk nikmat di diri kita saat ini.
Maka solusi terbaik adalah bersyukur atas segala nikmat, dan berusaha senatyasa berserah diri. Karena ketika kita yakin atas segala kepunyaan Allah, ikhlas pula ketika harus kembali padaNya.
Komentar
Posting Komentar