Rasanya saya begitu menyesal baru mengetahui sosok Arli Kurnia dan bukunya tentang 30 hari bebas hutang di akhir tahun 2019 ini.
Pemahaman saya tentang hutang begitu "terbongkar" setelah baru membaca beberapa Bab dari buku ini. Dan bab kedua yaitu "mengendap" begitu merasuk pada fikiran saya.
Mengendap itu bukan perkara mudah, tapi juga bukan berarti kita tak bisa melakukannya. Mengendap disini lebih bisa di maknai sebagai bentu penerimaan kita pada sesuatu yang menjadi "jatah" kita dengan ikhlas.
Mempercayakan semuanya kepada Allah swt, karena sejatinya semua adalah kepemilikanNya yang akan kembali pula padaNya.
Banyak hal yang dilalui oleh manusia hanya berdasar hasrat nafsu belaka. Berhutang hanya untuk memenuhi gengsi belaka. Tanpa memiliki perhitungan yang matang atau bahkan menghianati kebutuhan utama kita sebagai manusia.
Pada bab tentang mengendap ini pula saya belajar bagaimana ikhlas menerima adalah solusi terbaik atas hidup. Sebagai manusia memang kita harus berusaha, bahkan sebaik mungkin. Namun hasil itulah yang harus kita endapkan dengan baik. Dengan penuh rasa syukur.
Nah, dititik inilah saya memahami kenapa kadang manusia tidak tenang atau bahasa jawanya "kemrungsung" atas apa yang di hadapi dan alami. Kadang kita kurang mensyukuri sebuah kondisi yang sebenarnya itulah kondisi terbaik bagi kita saat itu.
Syukur bisa kita ejawatahkan dengan ibadah yang selalu meningjat, senyuman, bersedekah atau hal positif lainnya, karena sejatinya syukur itu adalah rasa puncak penerimaan sang hamba pada penciptanNya.
Jangan pernah lari pada masalah, hadapi, tenang ikhlas dan bersyukur. Tidak mungkin Tuhan memberikan cobaan yang hambaNya tidak mamou mengatasinya, Karena sejati semua adalah kepunyaanNya maka berserahlah dengan syukur dan endapan.
Komentar
Posting Komentar